Saya tatap wajah yang menunduk itu. dia masih seperti dulu, tampan dan gagak. Kulitnya yang gelap, semakin mempertegas kejantanannya. Tak heran, banyak gadis-gadis yang mengejar cintanya. Berharap agar dia memilih salah satu dari mereka, meski dia tidak bergeming.
Dia datang bertamu setelah sekian lama berpisah. Saya sebenarnya juga tidak terlalu berharap bertemu lagi dengannya. Hati saya terlanjur luka dan malah pernah berniat untuk menghapus namanya. Seingat saya, menjadi temannya selama ini lebih banyak menderita dari pada mendapatkan keuntungan. Saya rela jika Allah mentakdirkan kami tidak pernah bertemu lagi. Atau bahkan lupa jika suatu saat nanti berjumpa dengannya.





Komentar