Mencari Belahan Jiwa

Saya tatap wajah yang menunduk itu. dia masih seperti dulu, tampan dan gagak. Kulitnya yang gelap, semakin mempertegas kejantanannya. Tak heran, banyak gadis-gadis yang mengejar cintanya. Berharap agar dia memilih salah satu dari mereka, meski dia tidak bergeming.

Dia datang bertamu setelah sekian lama berpisah. Saya sebenarnya juga tidak terlalu berharap bertemu lagi dengannya. Hati saya terlanjur luka dan malah pernah berniat untuk menghapus namanya. Seingat saya, menjadi temannya selama ini lebih banyak menderita dari pada mendapatkan keuntungan. Saya rela jika Allah mentakdirkan kami tidak pernah bertemu lagi. Atau bahkan lupa jika suatu saat nanti berjumpa dengannya.

Tapi kami bertemu juga siang itu. wajahnya redup mengisyaratkan luka, seperti ada masalah berat yang membebaninya. ”Aku dalam proses perceraian,” jawabannya datar seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti bermunculan di kepala saya. Dia melanjutkan, ”Prosesnya rumit dan berlarut-larut, aku hampir stres”

Kemudian di bercerita kenapa memutuskan untuk menemui saya. Sebab, katanya, saya berbeda dengan kebanyakan temannya, dia yakin kalau saya bisa membantunya. ”Aku benar-benar butuh bantuanmu,” ointanya memelas.

Padahal kata ’berbeda’ itulah yang membangkitkan memori lama tentang dia. Memori menyakitkan yang ingin saya kubur dalam-dalam. Sebab setiap kali mengingatnya, saya merasa kecewa. Pada penghianatannya pada lebohongannya, juga pada pilihan hidupnya.

Kami memang pernah dekat. Dan selama itu dia baik-baik saja. Sampai akhirnya saya mengenal kajian-kajian keislaman, sedangkan dia dekat dengan teman-teman yang ’gak bener’ karena pindahan sekolahnya. Sejak itulah mulai terasa adanya perbedaan. Gaya hidupnya yang cenderung hedonis jelas bertentangan dengan pilihan menjadi ktivis pengajian. Apalagi waktu saya masih sangat muda, sehingga cara-cara saya cenderung lebih eksplosif dan frontal.

Ketidaksetujuan saya kepada pilihannya, saya tampilkan secara terbuka. Pun hanya dengan dirinya, kesinnisannya terhadap pilihan-pilihan saya, dia tampakkan secara nyata. Kami sering berdebat dan bertengkar. Meski tetao saja saya kaget saat dia berbuat seperti ini.

Stiap dua kali saya mencoba memaafkannya toh dia teman dekat. Namun ketika kebohongan dan ketegaan sangat sering terjadi, saya hanya berharap agar kami bisa berpisah saja. Apalagi kesadaran keislaman saya mempertemukan saya dengan banyak teman-teman baru yang, InsyaAllah, jauh lebih baik dan ikhlas. Maka kamipun berpisah.

Dia benar-benar lelah. Pilihan hidupnya menjadi sangat dilematis. Di satu sisi, dia mendapatkan materi yang leimpah dan sangat berkecukupan. Di sisi lain, diapin mengalami banyak kekecewaan dalam hidup. Initnya, dia tidak bahagia!

Demikian pula perkawinannya. Dua kali menikah semuanya kandas di tengah jalan, sedangkan yang ketiga dalam proses perceraian.

Saya memang pernah mengingatkannya agar hati-hati memilih istri. Sebab menikah sebenarnya bukan untuk diri kita, namun juga untuk anak-anak yang kelak akan hadir di tengah-tengah keluarga. Artinya, menikah harus berorientasikan pada keluarga yang lengkap, ayah, ibu dan anak. Malah James O Prochaska dan C. DiClemente, menyimpulkan penelitian mereka, bahwa orientasi suami istri terhadap anak ikut andil menjaga kelanggengan dan keharmoniisan keluarga. Keluarga dengan orientasi yang jelas tentang pendidikan anak-anak menjadi relatif lebih bahagia.

Untuk itu, kita membutuhkan pasangan hidup yang bukan sekedar cinta dan seksi, namun juga shalihah. Perempuan yang memahami peran dan fungsinya sebagai istri dan ibu, serta kemampuan menjalankannya dengan baik. Sebab ibarat benteng, rumah adalah benteng pertahanan aqidah, akhlaq dan nilai-nilai moral. Di tengah kesibukan suami mencari nafkah, mesti ada ibu yang mendampinginya menjaga benteng itu. bukankah Rasulullah sendiri pernah mengingatkan kita agar memilih tempat yang baik untuk menyemai nutfah?

Imam AL Mawardi menyebutkan bahwa memilih ibu yang baik itu adalah hak anak. Kewajiban bagi ayah sebagai kepala keluarga untuk memenuhinya di atas kewajiban material yang ada. Saya pikir, hanya lelaki egois yang memutuskan menikahi perempuan dengan alasan-alasan kepentingannya sendiri.

Karena itulah Rasulullah memahami alasa sahabat Jabir bin Abdillah saat memutuskan menikahi janda dan bukannya seorang gadis seperti yang dianjurkan. Jabir berargumen bahwa dia memiliki adik-adik perempuan yang butuh pendidikan. Dia berharap agar istrinya nanti mampu melakukkan itu. Hal yang ia khawatirkan tidak akan terpenuhi jika menikahi gadis sebaya adik-adik perempuannya.

”Aku ingin kembali ke jalan yang lurus. Karena aku melihat engkau lebih tenang dan bahagia. Sedang tuduhanku bahwa menjadi seorang aktivis pengajian identik dengan kekurangan harta, ternyata tidak terbukti. Aku memang sangat berkecukupan, namun aku yakin engkau tahu, aku tidak bahagia. Aku ingin engkau mencarikan istri shalihah bagiku. Meski tak pantas, aku akan memenuhi syarat-syaratmu”

Saya tertegun mendengarnya. Kata-kata yang ingin saya dengar sembilan tahun yang lalu itu, menjadi kenyataan. Subhanallah! Saya sama sekali tidak pernah menduga akan begini akhirnya, meski saya memang pernah mendoakan kebaikan baginya.

Saya katakan kepadanya, bahwa seorang wanita shalihah tidak melihat ketampananmu, hartamu atau bahkan pangkatmu. Dia hanya butuh keyakinan menikah dengan lelaki yang tepat. Yang bisa membimbingnya menjalani hari-hari dalam pencarian ridho ilahi. Lelaki qowwam yang memiliki ilmu agama memadai dan orientasi tentang anak yang jelas.

Dan saat saya mensyaratkan kepadanya untuk mendalami ilmu-ilmu agama dahulu, bekal terpenting yang justru tidak ia miliki, dia menganggukkan kepala. Ya Allah, semoda tidak berubah pendirian selama ini.

Diambil dari : Majalah Ar-Risalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: