Filter Syar’i dalam Bisnis

Syariat memiliki filter dalam menjaga agar bisnis (tijarah) terhindar dari unsur zhalim dan maksiat juga kerusakan moral dalam bisnis (moral hazard). Bisnis harus ‘suci’ dari -paling tidak- tujuh filter berikut ini :

1. Judi (maysir)

Maysir yaitu segala bentuk spekulasi judi (gambling). Bisnis judi atau mengandung unsur judi adalah haram. Sebab, bisnis ini memicu angan dan harapan berlebih tanpa bekerja dan bermodal hingga berpotensi mematikan sektor riil dan tidak produktif. Contohnya : judi togel, CP (Content Provider) dengan produk SMS judi, atau program hadiah yang mengandung unsur judi.

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Ma’idah : 90)

2. Bisnis Asusila (fahsya’)

Yaitu segala praktik usaha yang melanggar kesusilaan dan norma sosial. Contohnya : prostitusi, panti pijat ’plus’, mendirikan group dangdut, atau tari (dance) yang menjual goyangan mesum dan pamer aurat, bisnis CD porno dan lainnya. Intinya menjual kemaksiatan berupa barang, tempat maupun jasa.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl : 90)

Rasulullah bersabda, ”Tidak dihalalkan hasil jual beli anjing, upah dukun dan upah pelacur.” (HR. Abu Daud)

3. Barang Haram

Segala bisnis barang haram atau mengandung unsur haram. Misalnya produksi miras, ganja, produk yang mengandung unsur babi, bisnis daging hewan haram dan lainnya. Adapun rokok beberapa ulama besar seperti Syaikh al Utsaimin, Syaikh Shalih al Fauzan, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Ibnu Baz dan lainnya menfatwakan haram dengan tegas.

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. Al-A’raf : 157)

4. Mengandung Riba

Yaitu segala bentuk distorsi mata uang menjadi komoditas dengan mengenakan tambahan (bunga) pada transaksi kredit atau penjaman dan pertukaran / barter lebih antar barang ribawi sejenis. Contohnya : bunga kredit, pinjaman berbunga, pertukaran uang sejenis (rupiah dengan rupiah) dengan mengambul untung yang lainnya.

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqarah : 278-279)

5. Tidak Transparan (Gharar)

Al Grarar yaitu segala transaksi yang tidak transparan dan tidak jelas hasilnya sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak (ibarat ”membeli kucing dalam karung”). Misalnya menjual janin, mobil yang dicuri, tanah yang mengandung logam dengan harga yang berbeda, susu yang belum diperah dan lainnya.

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil. (QS. Al-Baqarah : 188)

6. Menimbun (ikhtikar)

Ikhtikar yaitu menimbun dan memonopoli barang atau jasa untuk tujuan permainan harga. Praktik ikhtikar akan merusak pasar karena monopoli oleh pemodal besar. Contohnya : memborong minyak atau komoditas lain sehingga terjadi di pasar, lalu di jual dengan harga tinggi. ”Barang siapa menimbun barang, maka dia berdosa”. (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda, ”Siapa yang melakukan penimbunan barang dengan tujuan merusak harga pasar, sehingga harga naik secara tajam, maka ia telah bersalah” (Ibnu Majah)

7. Praktik curang dan Manipulasi (Tathfif)

Tahtfif yaitu curang dalam timbangan atau takaran. Akan tetapi curang dengan segala bentuknya hukumnya tetap haram karena merugikan orang lain. Misalnya : manipulasi timbangan atau takaran, penggelonggongan daging, manipulasi dalam pengepakan atau penataan untuk meyembunyikan aib dan lainnya.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al Muthafifin : 1-3)

Referensi :

ü Majmu’ Fatawa, Imam Ibnu Taimiyah

ü Fikih Aktual, DR. Setiawan Budi Utomo

Sumber : Poster Majalah Ar-risalah edisi 92

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: